Sebuah catatan: “Ide Gila Santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 4)

Sebuah catatan: “Ide Gila Santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 4)

383
0
SHARE

BataraNews.com

Lima menit kami berada diruangan kapolres Ciamis, beliau masih muda namun tampakk berwibawa obrolan dimulai dari pertanyaan yang datar.

“Bagaimana kondisi anak-anak pakk kiayi?”

“Sehat pakk Alhamdulillah”, saya menimpakli pertanyaan beliau.

“Sampaki mana anak anak jalan kaki?” tanya kapolres

“Sekuatnya aja pakk”, jawab saya

Selanjutnya beliau mengatakan, “pakda dasarnya tidak ada larangan apakpun bagi perusahaan po bus yang ada cuma himbauan aja”

“Iya pak bagus”, kata saya.

Kemudian beliau menyuruh mengambilkan himbaun kapolda dalam map dan diberikan kepada saya. Saya pamitan pada kapolres beliau mengantar saya sampai luar gedung bersama kanit Intel.
Saya bergegas menuju jalan poros utama mencegat rombongan namun agak lama menunggu karena jarak antara masjid agung dan mapolres sekitar 8 km. Tiba-tiba perut saya agak murilit baru ngeuh saya belum sarapan sejak pagi. Saya berjalan agak beberapa puluh meter kedepan mencari warung nasi tapi tidak ketemu yang ada tukang basoo ya udah saya mesen baso dua mangkok untuk saya dan teman saya baru mencicipi kuahnya dua sendok terdengar suara korlap orasi dari mobil komando datang mendekat buru buru saya bayar dan merapat kerombongan. Saya ambil hp Samsung untuk mengambil photo dan siaran langsung melalui fb ,10 menit Jalan kaki terdengar suara adan solat duhur tepakt disamping kanan ada masjid besar namanya Masjid Alghoni kami berembung dan diputuskan santri putri solat disitu santri putra suruh jalan kedepan setengah kilometer menuju Masjid Nurul Iman untuk melakukan solat dhuhur berjamaah disarankan jama dan qhosor,,
Kurang lebih satu jam kita istirahat, kita kasih komando lagi semua peserta jalan kaki masuk masjid untuk diberikan pengarahan lanjutan tak lupa pekikan kata “Ista’idduuu”. Serempakk dijawab “Labbaikk… Takbiirr… Allohu Akbar Allohu Akbar…” Semua keluar dari masjid mobil komando didepan dan jalan kaki dilanjutkan.

Baru 5 menit berjalan hujan turun tapi peserta tidak bergeming melangkah dan terus melangkah waktu saat itu menunjukan jam 13.00 wib
Selama dua jam perjalanan belum ada sambutan apapun dari masyarakat sekitar yang terlewati, baru ketika sampai di Sindang Kasih saya kaget.

Banyak masyarakat berjejer sepanjang jalan padahal saat itu hujan lebat anak-anak mengucapkan takbiir ibu-ibu banyak yang berkata “sok ujang diduakeun ku ema sing salamet sarehat sing sabar da keur ngabela agama( didoakan sama ibu biar selamat sehat dan sabar sebab lagi membela agama)”.

Banyak sekali ibu-ibu yang menyediakan makanan dan minuman bahkan ada seorang ibu lagi panen mentimun disawah langsung dibawa diberikan pada peserta sambil menangis entah  apa yang membuatnya jadi menangis dan secara spontan seorang nenek memberikan uang Lima puluh ribu ada juga yang seratus ribu.  Tak kuasa saya menahan haru ada perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata hanya air mata yang meleleh yang menjadi jawaban.

Ditengah guyuran hujan semuanya terus berjalan tak peduli lagi baju basah kuyup cuaca dingin kalah dengan panasnya api semangat jihad yang menyala. Saya ambil hp yang terbungkus plastik agar tidak kehujanan untuk liat jam dan mengabadikan moment indah yang tak akan pernah terlupakan.

Telpon berdering saya angkat, “Assalamualaikum, pak inI saya dari Inews tv mau wawancara 5 menit lagi”

“Entar tunggu 10 menit lagi biar sekalian istirahat” jawab saya singkat

Diujung telpon menjawab “baik pak terimakasih”

Pas 10 menit yang dijanjikan hp bunyi lagi dengan nomor yang sama.

“Pak saya dari I news siap untuk wawanacara”

“OK siap”, tapi tiba tiba hp jadi buram ternyata batunya hampir habis. Saya cari  peserta yang bawa power bank, lama juga nyarinya akhirnya dapat juga dari kiyi Maksum. Hp tersambung dengan Power bank dan wawancara selama 5 menit sambil berjalan.

Kita tidak tau pemberitaan media apapun karena pokus jalan kaki. Kondisi mulai agak kikuk hp terus berdering selang satu menit, bahkan banyak yang berbarengan masuknya.

Masuk lagi telpon dengan nama kiayi senior biliau bertanya, “sudah sampaki mana?”

“cikole kang”, jawab saya

“Sekarang mah kapolri udah mencabut larangan bus barusan ada disiaran tv one, perjalanan gak usah dilanjutkan”, katanya

Saya jawab, “iya kang nanti saya musyawarah dipesantren cikole”.

Telepon ditutup dan kita terus jalan menuju pesantren Cikole yang menjadi destinasi pos 1 sesuai peta jalan yang sudah dibuat. Hp berdering lagi saya angkat, “asalamalaikum ini aang (panggilan saya disantri dan orang tua)  gimana anak saya ikut engga?”

”ikut kang” Jawab saya

“Gimana engga sakit?” dari ujung telpon

“Insya alloh sehat” jawab saya lagi.

Sambil terus jalan ditengah hujan, pikiran mulai agak kacau sebab telpon bejibun yang masuk belum lagi konfirmasi dari orang tua santri.   Akhirnya tepakt jam 17.00 kita sampai ditujuan pertama pesantren Miftahul Huda Usmaniyah, disana seluruh santri sudah berjejer dengan masyarakat menyambut kafilah mujahid sambil mengacungkan tangan takbir menggema. Peserta merasa gembira karena banyak kaum anshor datang menyambut dengan hangat .
Peserta istirahat di pesantren Cikole sekalian solat magrib dijamak dengan isya. Disana sudah ada KH. Syarif Hidayat pimpinan pesantren Al-Hasan yang menyambut. Beliau baru datang dari Jakarta dan langsung bergabung dengan kafilah.

Wartawan berkerumun menanyakan, “apakah perjalanan dilanjut atau hanya sampai disini saja”.

Saya menjawab, “nanti keputusannya sesudah sholat magrib”.

Saya betul-betul dibuat sibuk dan harus bertanggung jawab pada seluruh peserta plus melayani wartawan. Beres solat magrib kita melakukan rapat dengan Kiayi Maksum dan sesepuh pesantren lainnya. Hasil keputusannya adalah seluruh peserta bermalam di Cikole dan perjalanan dilanjut besok pagi, untuk santri putri juga anak santri yang sambil sekolah dikembalikan ke pondok masing masing jumlahnya ada sekitar 3500 orang.

Semua pimpinan masuk masjid dan kita mengumumkan hasil keputusan rapat dihadapan peserta dan wartawan. Pekik takbir menggema setiap point keputusan dibacakan, jam 19.00 para pimpinan pesantren banyak yang idzin balik ke pondok dulu dan berjanji besok pagi bergabung lagi. Hanya tinggal saya seorang diri yang menjadi pusat komando. Waktu semakin larut malam, lelah dan ngantuk mulai menyerang saya merebahkan diri ke karfet masjid berbantalkan ransel yang agak basah, puless tak ingat apa- apa.
Bersambung ke seri 5 …

Baca:

Sebuah catatan : “Ide Gila Santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 1)

Sebuah catatan : “Ide Gila Santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 2)

Sebuah catatan : “Ide Gila Santri Ciamis Jalan kaki 212″ (Seri 3)