Retaknya Pesantren Kami

Retaknya Pesantren Kami

SHARE

BataraNews.com – Setelah sukses keluar masuk pesantren pada Medio Februari – Maret 2016 lalu, kini taipan Hary Tanoesoedibjo mendirikan Yayasan Peduli Pesantren (YPP), 4 Desember lalu. Yayasan ini diketuai oleh Hari Tanoesoedibjo, Dewan Pengawas diketuai oleh Salahudin Wahid (Pengasuh PP Tebu Ireng, Jombang), Dewan Pembina diketuai oleh Said Aqiel Siroj(Ketua Tanfidziyah PBNU), Hajiryanto Y Thohari, salah satu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, duduk sebagai anggota Dewan Pembina. Tapi, pada 6 Desember 2016, melalui sepucuk surat, Hajriyanto mengundurkan diri.

Pada medio Februari dan Maret lalu, di tengah-tengah ramainya wacana larangan mencari pemimpin non Muslim, kita dikejutkan dengan adanya pimpinan partai politik yang non Muslim keluar masuk pesantren (dan masjid) untuk menjajakan partai politik yang baru diploklamirkannya. Dengan memakai baju koko dan peci hitam, Hary disambut dengan gegap gempita, tangannya pun diciumi bak seorang kiai oleh para santri. Sungguh pemandangan yang memprihatinkan, seakan-akan di pesantren tidak lagi diajarkan konsep wala’ wal baro’.

Bolehkah non Muslim masuk Masjid? Di kalangan umat Islam, status non-Muslim masuk masjid sedikitnya ada tiga: Pertama, membolehkan; kedua, melarang; dan ketiga, hanya dilarang untuk Masjidil Haram saja.

Adapun yang kuat adalah pendapat para ulama yang menyatakan bahwa non Muslim boleh masuk masjid jika punya tujuan yang dibenarkan secara syar’i. Seperti, mendengarkan kajian Islam ataun konsultasi tentang agama Islam. Untuk urusan yang dihalalkan, seperti berteduh atau membangun masjid (jadi tukang atau kuli bangunan). Jika non Muslim masuk masjid hanya untuk keperluan wisata, dan berfoto-ria didalamnya, hal ini terlarang secara syar’i.

Lalu, bagaimana dengan non Muslim masuk masjid dan mempromosikan partai politik yang tidak bersandarkan syariat Islam? Ini jelas perbuatan maksiat yang mestinya tidak boleh terjadi di rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala mestinya dijaga kesuciannya. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman;

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika) dalam keadaan junub kecuali sekadar melewati jalan saja, sebelum kamu mandi(mandi junub)…”

(Q.S. an-Nisaa: 43)

Orang mukmin yang dalam keadan junub saja dilarang, bagaimana pula dengan orang kafir yang seumur-umur junub itu masuk masjid?

Masjid adalah bagian dari pesantren. Tidak ada pesantren tanpa masjid atau mushala/langgar yang difungsikan untuk melaksanakan shalat berjamaah sehari-semalam lima waktu.

Lalu, siapakah yang pantas mendirikan dan memakmurkan masjid (juga pesantren) ? Coba kita merujuk pada firman Allah ini:

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat menunaikan zakat dan tidak takut kepada (siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

(Q.S. at-Taubah:17-18)

Selain itu, untuk membangun masjid dan pesantren hendaknya menggunakan uang yang halal, jangan yang syubhat, apalagi haram, sebagaimana petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut ini:

Dinarasikan oleh Abu Abdillah an–Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar, belum jelas) yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Maka barangsiapa yang menjaga (dirinya) dari syubhat, ia telah berlepas diri (demi keselamatan) agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam syubhat, ia pun terjerumus ke dalam (hal-hal yang) haram. Bagaikan seorang penggembala yang menggembalakan hewan ternaknya di sekitar kawasan terlarang, maka hampir-hampir (dikhawatirkan) akan memasukinya. Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa (raja) memiliki kawasan terlarang. Ketahuilah, sesungguhnya kawasan terlarang Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila segumpal daging tersebut buruk, buruklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.”

(Diriwayatkan oleh Imam Bukhari: 2051 dan Imam Muslim: 1599)

Saat ini, umat Islam sedang diuji dalam menghadapi orang-orang kafir. Setelah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok menistakan al-Qur’an surah al-Maidah 51, taipan James Riady mendekati PBNU untuk mendirikan rumah-rumah sakit, disusul oleh Hary Tanoesoedibjo hendak membantu pembangunan sarana dan prasarana pesantren (termasuk masjid/mushala di dalamnya) di Indonesia.

Munculnya Hary Tanoesoedibjo dengan YPP-nya telah menimbulkan keretakan di kalangan pengelola pesantren. Bahkan di kalangan nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama)sendiri keretakan itu sudah terjadi.

Kepada Hary Tanoesoedibjo, perlu Anda ketahui, jika Anda berniat beramal untuk mendapatkan pahala, maka itu akan sia-sia. Kenapa? Karena Allah telah berfirman, “Dan Kami perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu(bagaikan) debu yang beterbangan.” (Q.S. al-Furqaa: 23).

Lalu, apalagi yang Anda harapkan jika tidak untuk kepentingan partai politik yang Anda dirikan? Ya, secara kasat mata, tidak ada makan siang yang gratis. Pendirian YPP hanyalah untuk memulung suara di 2019, sebagai investasi partai politik yang Anda dirikan dan Anda ketuai, persis seperti pendirian YPP dan Anda ketuai, itu.

Para kiai yang terlibat di dalam YPP, sadarlah, dan kembalilah ke jalan yang benar. Usia pesantren itu sudah ratusan tahun, dan dalam sejarahnya mereka mandiri. Tidak menerima bantuan dari pemerintahan kolonial, apalagi dari kaum kafir. Sekarang, di era reformasi, pesantren malah mendapat bantuan dari kaum kafir. Perbanyaklah istighfar, agar Allah memberi kita kepada jalan yang lurus, jalan yang diridhoi-Nya. (Herry/pemakmurmasjid.com)

Paket Umroh Murah