Mengenal Skizofrenia, Penyakit Gangguan Jiwa

Mengenal Skizofrenia, Penyakit Gangguan Jiwa

932
0
SHARE

Bataranews.com –  Pelaku pemutilasi Mutmainah (28) terhadap anak kandungnya. Istri dari anggota polisi Aipda Denny Siregar yang berdinas di Polda Metro Jaya. Kejadian tersebut terjadi pada tanggal 2 Oktober 2016, malam hari saat Aipda Denny Siregar pulang dari tugasnya. Sesampainya didalam rumah dia mendapati anak keduanya sudah tidak bernyawa, sedangkan sang istri duduk disebelah anaknya dan hanya terdiam. Sampai saat ini kejiwaan pelaku belum stabil. Keterangan yang diberikan kepada penyidik berubah-ubah. Masih belum menyadari apa yang sudah terjadi dan dia lakukan terhadap anak kandungnya. Hanya orang tua yang mengalami gangguan jiwa, yang mampu melakukan tidakan keji dan sadis. Hasil pemeriksaan awal pelaku terindikasi menderita Skizofrenia.

Apa itu Skizofrenia, adalah gangguan mental yang ditandai dengan gangguan proses berpikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan ini pada umumnya dimanifestasikan dalam bentuk halusinasi, paranoid, keyakinan atau pikiran yang salah yang tidak sesuai dengan dunia nyata serta dibangun atas unsur yang tidak berdasarkan logika, dan disertai dengan disfungsi sosial dan pekerjaan yang signifikan. Gejala awal biasanya muncul pada saat dewasa muda, dengan prevalensi semasa hidup secara global sekitar 0,3% – 0,7%. Diagnosis didasarkan atas pengamatan perilaku dan pengalaman penderita yang dilaporkan.

Penyebab Skizofrenia. Umumnya ada dua macam penyakit yang biasa disebut gila ini, yaitu neurosa dan psikosa. Skizofrenia termasuk psikosa. Penyebabnya sampai kini belum diketahui secara pasti, namun disebutkan faktor keturunan bisa menjadi salah satu penyebab.

Ada 2 gejala skizofrenia yaitu:

A. Gejala positif /gejala tipe I

  1. Delusi adalah kepercayaan yang tidak sesuai realita, misalnya : Merasa dirinya Nabi.
  2. Halusinasi adalah pengalaman indrawi yang tidak nyata, misalnya : Merasa melihat, mendengar, atau membaui sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
  3. Pikiran dan bicara kacau adalah pola bicara yang kacau, misalnya : ‘tidak nyambung’, menyambung kata berdasar bunyinya yang tidak ada artinya.
  4. Perilaku kacau atau katatonik adalah perilaku sangat tidak dapat diramalkan, aneh, dan sangat tidak bertanggung jawab, misalnya : Tidak bergerak sama sekali dalam waktu lama, tiba-tiba melompat-lompat tanpa tujuan.

 

B. Gejala negative/ gejala II

  1. Afek datar adalah secara emosi tidak mampu memberi respon terhadap lingkungan sekitarnya, misalnya : Ketika bicara ekspresi tidak sesuai, tidak ada ekspresi sedih ketika situasi sedih.
  2. Alogia adalah tidak mau bicara atau minimal, misalnya. Membisu beberapa hari.
  3. Avolition adalah tidak mampu melakukan tugas berdasar tujuan tertentu (dalam jangka lama), misalnya : Tidak mampu mandi sendiri, makan sampai selesai, dan lain-lain.

Dalam mengobati skizofrenia, dokter biasanya akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif (CBT) dengan obat-obatan antipsikotik. Untuk memperbesar peluang sembuh, pengobatan juga harus ditunjang oleh dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat.

Meskipun sudah sembuh, penderita skizofrenia tetap harus dimonitor. Biasanya dokter akan terus meresepkan obat-obatan untuk mencegah gejala kambuh. Selain itu, penting bagi penderita untuk mengenali tanda-tanda kemunculan episode akut dan bersedia membicarakan kondisinya pada orang lain.(azk)