Izinkan Kami Memupuk Asa di Bukit Duri

Izinkan Kami Memupuk Asa di Bukit Duri

586
0
SHARE

BataraNews.com – Jakarta,  Kota yang akrab dengan namanya ” Penggusuran”. Tidak elok memang jika kota ini tidak di bumbuhi dengan penggusuran demi percepatan pembangunan ruang kota.  Nah, jika merasa betah hidup di kota ini. Maka siap-siaplah mendapat giliran dari beberapa antrian yang hendak menjadi santapan penggusuran.

Pemprov DKI saat ini memang lagi menggalakkan penataan banguna-bangunan kumuh, penghijauan kota, percepatan pembangunan ruang kota. Maka tidak heran jika masa pemerintahan Gubernur saat ini, banyaknya orang-orang kecil yang merasa tergeser di Ibukota.

Untuk menggeser orang- orang kecil di Ibukota Pemprov punya segudang cara melegalkan nafsu kekuasaannya. Di muluskannya pembangunan reklamasi teluk Jakarta, di galakkannya penggusuran rumah-rumah kumuh. Bahkan tidak lagi mengedepankan sisi kemanusiaan sebagai pemimpin.

Pergeseran ekonomi mungkin akan menjadi tragedi kemanusiaan penduduk Ibukota sehingga orang-orang miskin tambah miskin, pun orang-orang kaya akan seperti raja. Hukum tidak lagi menjadi pembela masyarakat kecil. Hukum akan ditentukan oleh aktor lain yang dominan secara ekonomi sehingga yang terjadi adalah adu kuat antarmereka yang sama-sama ingin mengangkangi hukum. Yang bisa terjadi adalah kekacauan hukum, bukan ketertiban hukum.

Dan ini yang dirasakan oleh warga bukit duri. Terjadi penggusuran secara paksa. Putusan pengadilan terang-terangan dilanggar sampai-sampai hukum di kangkangi.

Seperti dilansir di Koran Sindo, menurut Mahfud MD bahwa peristiwa Bukit Duri adalah tragedi kemanusiaan dan tragedi penegakan hukum. Pengadilan sudah jelas memerintahkan status quo Bukit Duri selama perkara masih berlangsung, tetapi penggusuran tetap dilakukan. Konstitusi kita menganut paham negara kesejahteraan (welfare state) dengan penekanan bahwa rakyat harus dilindungi dan diberdayakan agar bisa sejahtera di tanah air sendiri.

Bertahun- tahun mereka hidup di bukit duri. Bahkan separuh kehidupan mereka sudah tertanam di sini. Tempat mereka mengalirkan asa dan cita-cita untuk anak dan cucu mereka tiba – tiba terenggut oleh ketamakan pemimpin kota ini. Mereka tak bisa berkutik. Seakan hukum  tak lagi berpihak pada segelintir masyarakat kecil.

Jika seperti ini. Suatu saat akan terjadi pergeseran konfigurasi politik. Hukum akan ditentukan oleh aktor konglomerat. Semua bisa membeli hukum sampai-sampai semua bisa membuat hukum sendiri-sendiri dengan kekuatan politik dan uang sendiri-sendiri. Sungguh mengerikan kalau ini terjadi.

Mudah-mudahan Bukit Duri, kembali kau izinkan kami memupuk asa.(fir)