Ini Bahayanya Jika Anak bersekolah Terlalu Dini

Ini Bahayanya Jika Anak bersekolah Terlalu Dini

1263
0
SHARE

BataraNews – Orang Tua manapun pasti mendambakan jika anak-anaknya kelak menjadi anak yang pintar-pintar dan berbakat. Namun tahukah Anda bahwa untuk mencetak anak-anak anda menjadi anak-anak yang pintar tidak serta merta membawa mereka ke sekolah di usia yang belum waktunya.

Namun, tidak jarang justru kita malah merasa malu jika anak-anak kita yang baru berumur 3 – 4 tahun tidak dimasukkan ke sekolah usia dini. Siapa yang salah dan siapa yang benar, mari kita kupas berikut ini.

Keyakinan umum

“Otak anak usia dini seperti spons, artinya ini masa yang tepat untuk ditanamkan ilmu, agar anak tumbuh cerdas.”

“Semakin dini disekolahkan, otak anak semakin berkembang.”

Kita sering berfikir  seperti berikut ini :

“Kan di sekolah belajarnya sambil bermain”

“Kan anak perlu belajar sosialisasi”

“Kan anak jadi belajar berbagi dan  bermain bersama”

“ Di sekolah, kegiatan anak hanya bermain kok!”

“Di sekolah, mainan lebih lengkap.”

“Di sekolah, anak belajar bersosialisasi & berbagi. “

Dari keyakinan umum ini banyak  orang tua  yang menyekolahkan anaknya sedini mungkin, bahkan ada yang memasukan anaknya ke  prasekolah di usia 1,5-2 tahun.

Faktanya, Pintar ada waktunya!

Secara ilmu kejiwaan, pada usia dini yang justru berkembang adalah pusat perasaan, anak usia dini harus jadi anak yang bahagia, bukan jadi anak yang pintar!

Anak usia dini belum perlu belajar sosialisasi dengan beragam orang. Saat anak diusia dini, otak anak yang paling pesat berkembang adalah pusat perasaannya, bukan pusat berpikirnya.

Taukah ayah bunda, permainan terbaik pada saat itu adalah tubuh ayah ibunya! Bermain dengan ayah ibu juga menciptakan kelekatan. Misal: bermain peran, bermain pura-pura, muka jelek, petak umpet.

Permainan paling kreatif adalah bermain tanpa mainan. Jangan batasi kreatifitas anak dengan permainan yang siap pakai. Contoh: karpet jadi mobil, panci jadi topi.

Anak  usia kurang dari 5 tahun belum saatnya belajar sosialisasi. Ia belum bisa bermain bersama. Mereka baru bisa bermain bersama-sama.

Bermain bersama-sama  adalah bermain diwaktu dan  tempat yang sama namun tidak berbagi mainan yang sama (menggunakan mainan masing-masing). Sedangkan Bermain bersama adalah bermain permainan yang membutuhkan berbagi mainan yang sama.

Ini yang Anak Anda Rasakan Jika Anak Usia Dini Anda, Anda masukan ke Sekolah lebih cepat

Di sekolah, anak belajar patuh pada aturan dan mengikuti instruksi.

Aturan dan instruksi perlu diterapkan setahap demi setahap. Jika di rumah ada aturan, di sekolah ada aturan, berapa banyak aturan yg harus anak ikuti? Apa yang dirasakan anak?

Analogi: Seorang anak yang berusia kurang dari 5 tahun yang sangat berbakat dalam memasak, dimasukkan ke sekolah memasak. Di sekolah itu, dia diajari berbagai aturan memasak yang banyak, dilatih oleh beberapa instruktur sekaligus. Yang dirasakan anak: pusing!

 

Memasukkan sekolah anak terlalu dini, sama seperti menyemai benih kanker.

Kita tidak tahu kapan kanker akan muncul dan dalam jenis apa. Otaknya belum siap. Kita tidak pernah tahu kapan ia kehilangan motivasi belajar.

Semakin muda kita sekolahkan anak, semakin cepat pula ia mengalami BLAST (Bored Lonely Afraid-Angry Stress Tired).

anak yang mengalami BLAST, lebih rentan menjadi  pelaku dan korban bullying, pornografi dan kejahatan seksual.

 

Ciri anak memasuki masa teachable moment ( Usia Belajar)

* Menunjukkan minat untuk sekolah.

* Minat tersebut bersifat menetap.

* Jika kita beri kesempatan untuk bersekolah, ia menunjukkan kemampuannya.

 

Jadi, Kapan sebaiknya anak masuk sekolah?

* TK A → usia 5 tahun

* TK B → usia 6 tahun

* SD → usia 7 tahun

Dibawah usia 5 tahun, anak tidak perlu bersekolah.

 

Kebutuhan anak 0 – 8 tahun adalah bermain dan  terbentuknya kelekatan.

Jangan kalian cabut anak-anak dari dunianya terlalu cepat, karena kau akan mendapatkan orang dewasa yang kekanakan. -Prof. Neil Postman, The Disappearance Childhood-

Sumber:  Elly Risman, S. Psi (Yayasan Kita & Buah Hati )