Indonesia Menurut Founding Fathers : Bangsa Sebagai Pondasi & Negara Sebagai Bangunan

Indonesia Menurut Founding Fathers : Bangsa Sebagai Pondasi & Negara Sebagai Bangunan

SHARE

BataraNews.com – SEBELUM membahas bagaimana model bangunan NKRI, kita harus terlebih dulu memahami teori bangunan secara umum. Jika kita melihat suatu rumah atau gedung sebagai bangunan maka kita akan melihat berbagai komponen yang membentuk bangunan tersebut, mulai fondasi, kerangka, lantai, atap, dan lain sebagainya. Secara proses, pembangunannya pun harus berurutan. Tidak mungkin membangun suatu rumah, langsung atapnya sementara fondasi terlewatkan. Seorang arsitek rumah harus dapat memperhitungkan komposisi semen, pasir, kayu, dan besi yang dibutuhkan.

Dalam melihat bangunan suatu negara, kita harus memahami pengertian negara dan pengertian bangsa. Pengertian negara menurut John Locke dan Rousseau adalah badan atau organisasi hasil perjanjian masyarakat. Hasil perjanjian masyarakat tertuang di dalam konstitusi. Maka dari itu, syarat berdirinya negara berdasar Konferensi Monteviedo tahun 1933, yakni negara harus memiliki rakyat, wilayah, konstitusi, dan pengakuan dari negara lain.

Sedangkan pengertian bangsa menurut Ernest Renan adalah sekelompok manusia dalam suatu ikatan batin yang dipersatukan, karena memiliki persamaan sejarah serta cita-cita sama. Otto Bauer menyatakan, bangsa merupakan sekelompok manusia yang memiliki persamaan karakter, karena persamaan nasib dan pengalaman sejarah budaya yang tumbuh berkembang bersama dengan tumbuh kembangnya bangsa.

Sementara itu, pengertian bangsa menurut Bung Karno saat pidato 1 Juni 1945 sekaligus menggugurkan definisi menurut Renan, “Mohon maaf kepada Ernest Renan karena di masa definisi bangsa itu belum ada geopolitik dan geoekonomi. Jadi mohon maaf sekali, definisi itu tidak dapat dipakai di Indonesia. Kita suatu kesatuan manusia dengan wilayah.” Jadi menurut Bung Karno, yang dimaksud Bangsa Indonesia adalah terikat dengan wilayah, serta terletak di antara dua benua dan dua samudera. Oleh karena itu, kata ‘bangsa’ selalu melekat dengan ‘Tanah Air’, sedangkan negara merupakan organisasi pemerintahan dan komponen bangunannya didasarkan UUD 45. Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan kala melihat bangunan suatu negara ialah perjalanan sejarah negara itu sendiri. Karena, perjalanan sejarah erat dengan penetapan filosofi dan konstitusinya.

Melihat model bangunan NKRI yang berdiri pada 18 Agustus 1945 berbentuk unik dan berbeda dengan negara lain di dunia. Pasalnya, filosofi NKRI berdasarkan sejarah, terdiri dari bangsanya dulu, yang terlahir 28 Oktober 1928, Merdeka 17 Agustus 1945, dan membentuk negara tanggal 18 Agustus 1945. Filosofi itu kemudian membentuk konstruksi Bangsa sebagai fondasi dan negara sebagai bangunan atasnya. Sedangkan negara-negara lain di dunia memiliki model negara sebagai fondasi dan bangsa (warga negara, masyarakat) sebagai bangunannya. Artinya , berkebalikan dengan NKRI.

Sejarah mencatat, dahulu pernah berdiri suatu negara yang sama dengan konstruksi NKRI, seperti Romawi dan Madinah masa Nabi Muhammad SAW. Konstruksi kedua negara itu ialah bangsa sebagai fondasi dan negara sebagai bangunan. Namun, seiring berjalannya waktu, keduanya hancur dan berubah bentuk.

PANCASILA DASAR BANGUNAN NKRI

Pancasila merupakan dasar Indonesia merdeka, dan bersifat alamiah seperti batuan segar pada suatu bangunan. Bisa dikatakan, Pancasila merupakan fondasi terdalam dari suatu bangunan. Sehingga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila menjadi sumber dari segala sumber hukum, di mana segala peraturan yang terbangun tidak boleh bertentangan dengan Pancasila.

Pancasila juga merupakan alat untuk menegakkan kedaulatan rakyat sebagai cita-cita bangsa Indonesia. Dan kedaulatan rakyat itu kemudian dijalankan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat berdasar pasal 1 ayat 2 UUD 45. Pada perjalanannya, MPR akan menetapkan Undang-Undang Dasar (UUD) sebagai konstitusi untuk menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara, baik pada tatanan pemerintah pusat, propinsi, maupun kabupaten/kota dan Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai batasan-batasan pokok bagi negara menjalankan aktivitasnya, mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Singkat penjelasan, UUD dan GBHN adalah mandat MPR kepada lembaga negara. Sehingga pola bottom-up sebagai tipe penetapan kebijakan yang berasal dari rakyat dan kembali lagi kepada rakyat semakin nyata dalam mekanisme tersebut. Dalam hal pertahanan, di wilayah bangsa terdapat TNI yang merupakan tentara rakyat, tentara pejuang, dan berasal dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Sedangkan di wilayah negara ada tugas POLRI sebagai lembaga penegak hukum. Kedua institusi ini berada di bawah presiden selaku panglima tertinggi atas angkatan perang (Pasal 10 UUD 45).

PENGHANCURAN BANGUNAN NKRI

Memasuki Era Reformasi, dengan dalih menciptakan perbaikan Orde Baru, penghancuran justru terjadi. Diubahnya UUD 1945 Naskah Asli dan dihapusnya GBHN menjadi Negara Indonesia tidak memiliki arah dan tujuan jelas. Hal tersebut kemudian ditambah dengan peranan negara yang semakin absolut, serta tidak adanya kontrol dan batasan menjalankan kekuasaan, membuat pola top-down dominan. Filosofi yang sudah terbalik, seakan-akan negara sebagai fondasi dan bangsa sebagai bangunannya telah mengkhianati kebenaran sejarah bangsa Indonesia. Tersekatnya bangsa dengan berbagai macam partai, dan adanya otonomi daerah seluas-luasnya, merupakan proses penghancuran bangsa sebagai fondasi NKRI.

Dengan adanya mekanisme seperti itu, baik konflik horizontal maupun vertikal kerap terjadi di kehidupan kita. Maka tercapainya disintegrasi bangsa menjadi semakin dekat. Pertanyaannya sekarang adalah, “Jika fondasi dan dasarnya (Pancasila) sudah hancur maka apa bedanya NKRI dengan rumah kardus yang tidak punya fondasi???… Sekali kena angin langsung hancur,”…. Secara sejarah, NKRI merupakan bangunan satu-satunya yang tersisa dengan pola bangsa sebagai fondasi dan negara sebagai bangunannya.

Jika NKRI dengan pola seperti itu hancur maka akan menyusul Romawi dan Madinah yang dahulu juga memiliki tatanan sama. Dunia kemudian hanya memiliki satu pola dan bersifat monoton, yaitu pola negara sebagai fondasi dan bangsa sebagai bangunan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita menjaga NKRI sebagai khazanah warisan dunia dan amanat dari para pendahulu, sebagai tempat mencapai keadilan dan kemakmuran.(Wandhi Fahnoer)

Paket Umroh Murah