Jakarta Tanpa Tanggul Raksasa

Jakarta Tanpa Tanggul Raksasa

SHARE

BataraNews.com – Tanggul raksasa atau giant sea wall (GSW) dan reklamasi bukanlah sesuatu yang tabu dan harus ditentang. Jika GSW memberi manfaat dengan alasan yang jelas dan dampak lingkungan yang terukur, pembangunan GSW tentu bisa didukung.

Salah satu contohnya adalah GSW di St Petersburg, Rusia, yang dibangun untuk melindungi kota dari storm surge, yaitu naiknya muka air laut akibat badai. Sebelum membangun GSW, pemerintah St Petersburg memperbanyak jumlah tempat pengolahan limbah (Sewerage Treatment Plant/STP) untuk menjamin air yang akan mengalir ke waduk penampungan memenuhi baku mutu.

Ada kajian, GSW Jakarta yang akan dibangun tidak memberi manfaat dan berdampak luar biasa bagi lingkungan. Tidak mengherankan jika usulan National Capital Integration Coastal Development (NCICD) ini perlu ditentang.

Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) sebagai cikal bakal NCICD memulai ide penutupan Teluk Jakarta karena ancaman naiknya permukaan laut. Setelah dikritik bahwa storm surge, tsunami, dan muka air laut naik akibat pemanasan global di Jakarta sangat kecil, akhirnya ancaman banjir laut itu tidak lagi menjadi alasan pembangunan GSW.

Saat ini alasan utama NCICD membangun GSW adalah penurunan muka tanah atau land subsidence. Betulkah GSW diperlukan untuk melindungi Jakarta dari penurunan muka tanah?

Penurunan muka tanah memperoleh perhatian khusus Presiden Joko Widodo. Setelah rapat kabinet terbatas, pemerintah memutuskan untuk meneruskan Program NCICD yang akan menutup Teluk Jakarta dengan GSW. Keputusan ini perlu dikaji ulang karena pemerintah kurang memahami secara teknis kelemahan GSW Teluk Jakarta.

Jika GSW dibangun, selain memakan biaya sangat besar, biaya operasional dan dampak lingkungannya juga sangat besar. Yang lebih parah, GSW justru akan memperparah risiko banjir Jakarta.

Pengamanan Jakarta

Memang ada dua opsi untuk mengamankan Jakarta dari ancaman penurunan muka tanah. Opsi pertama adalah menanggul pantai dan sungai di sepanjang daerah yang terancam dan mengalami penurunan muka tanah. Opsi kedua adalah menutup Teluk Jakarta dengan GSW.

Opsi pertama pernah penulis sampaikan di Rubrik Opini Kompas (19 Maret 2013), yang merupakan pilihan tepat untuk Jakarta. Opsi ini tidak memerlukan pompa untuk mengalirkan 13 sungai dari daerah hulu Jakarta. Air mengalir dengan gravitasi tanpa bantuan pompa raksasa.

Pengelola Jakarta cukup memompa air hujan yang turun di daerah penurunan muka tanah dengan kapasitas pompa yang jauh lebih kecil. Selain itu, dengan opsi pertama, Jakarta bisa mempertahankan sumber daya ekonomi kelautan Teluk Jakarta dengan potensi luar biasa. Perairan Teluk Jakarta mempunyai nilai sangat penting untuk mendukung program pemerintah menjadi poros maritim. Dengan opsi pertama, pemerintah tidak perlu memindahkan PLTU Muara Karang, Pelabuhan Ikan Nusantara, dan merelokasi masyarakat nelayan. Dampak lingkungan dari opsi ini hampir tidak ada. Mangrove pun tetap subur untuk mendukung ekosistem Teluk Jakarta.

Opsi kedua merupakan usulan konsultan Belanda, NCICD. Teluk Jakarta akan ditutup dengan GSW yang bertujuan sebagai waduk air minum, pengatur banjir, dan melindungi daerah permukiman baru yang dibangun melalui reklamasi. Jika disimak saksama, tidak satu pun tujuan pembangunan GSW akan tercapai karena secara teknis usulan GSW tidak masuk akal dan memperparah banjir Jakarta.

Pompa raksasa

Akibat dibangunnya GSW, Jakarta tidak hanya harus memompa air hujan yang turun di daerah penurunan muka tanah, tetapi juga harus memompa air dari daerah hulu (Bogor, Cipanas, Depok, dan lain-lain). Akibatnya, biaya operasional GSW sangat besar, sekitar Rp 500 miliar per tahun, apalagi ternyata operasi GSW memperparah risiko banjir Jakarta.

Jika Jakarta hanya memperkuat tanggul pantai dan tanggul sungai di sepanjang daerah penurunan muka tanah tanpa GSW, Jakarta cukup memompa air dari daerah penurunan muka tanah. Sebuah perbedaan besar dan mudah dipahami. Daerah tangkapan dari penurunan muka tanah hanya sekitar 1/15 tangkapan area sampai daerah hulu. Artinya besar pompa GSW 15 kali lebih besar dari tanpa GSW.

Untuk menampung banjir, elevasi air di waduk direncanakan lebih rendah dari muka air laut terendah atau lebih dikenal sebagai LWS (Lowest Water Spring). Data NCICD menunjukkan jumlah air yang mengalir ke GSW Jakarta selama enam hari bisa mencapai 730 juta m3. NCICD mengklaim pompa 730 m3/detik bisa mengatur elevasi muka air 2,5 meter dengan luas waduk 75 km2. Padahal, jika dihitung dengan lebih saksama, dibutuhkan pompa 1.050 m3/detik.

Jika hanya memasang pompa 730 m3/detik, muka air di waduk GSW harus diturunkan 4,7 meter. Jika pompa macet, Jakarta akan tenggelam oleh banjir kiriman dari daerah hulu. Pompa raksasa GSW akan menjadi pompa terbesar di dunia, apakah Jakarta siap dan sanggup mengoperasikan pompa besar ini? Saat ini Jakarta mengoperasikan pompa 30 m3/detik saja suka gagal, apalagi mengoperasikan pompa 1.050 m3/detik.

Seandainya Jakarta tidak menutup Teluk Jakarta atau tanpa GSW, pompa 100 m3/detik sudah mencukupi untuk mengendalikan banjir di daerah penurunan muka tanah. Seandainya pompa macet, risiko banjir Jakarta hanya dari hujan yang turun di daerah penurunan tanah.

Paket Umroh Murah