Guru Besar IPB kembangkan Formula Pertanian ‘Smart Farming’

Guru Besar IPB kembangkan Formula Pertanian ‘Smart Farming’

SHARE
ilustrasi

BataraNews.com - Guru Besar Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Ir. Handoko berhasil mengembangkan model simulasi pertanian. Model simulasi ini  memodelkan pertumbuhan tanaman dengan memperhitungkan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya, sehingga dapat memprediksi apa yang akan terjadi pada tanaman bila nanti ditanam.

Prof. Handoko tertarik meneliti pemodelan pertanian ini karena kegemarannya berhitung dan merumuskan sesuatu. “Pemodelan simulasi pertanian ini  juga dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB ini.

Menurut Prof. Handoko, aspek yang dilihat dalam pemodelan pertanian diantaranya cuaca dan iklim. Iklim dan cuaca suatu daerah pada waktu tertentu akan mempengaruhi hasil produksi pertanian. Dengan pemodelan ini diharapkan dapat memprediksi apa yang terjadi  dan mengusahakan produksi maksimum.

“Misal kita bandingkan cuaca di Sumatera dan Jawa Timur. Di Sumatera itu cuacanya lebih basah dibanding dengan Jawa Timur yang kering, sehingga akan lebih menguntungkan jika tanaman kelapa sawit ditanam  di Sumatera. Di Jawa Timur lebih baik ditanam tanaman jati,” terangnya.

Salah satu penelitian model simulasi pertanian Prof. Handoko ini yakni mensimulasikan pola tanaman padi dan membuat peta sawah di pulau Jawa. Pemodelan simulasi peta sawah pulau Jawa ini dibuat berdasarkan data satelit yang ada untuk mengetahui waktu yang tepat untuk menanam padi dan daerah mana yang cocok untuk penanamannya.

Selain penempatprof_handokoan daerah dan waktu yang cocok untuk setiap komoditas, pemodelan simulasi pertanian juga memberikan prediksi pola produksi yang akan datang.  “Misalkan sawit, kalau saat ini sawit itu gak ada airnya dan bunganya tidak tumbuh, dia akan jadi sawit jantan ataupun tidak tumbuh sama sekali. Nah kalau kita coba simulasikan, ini kelapa sawit tahun depan tidak akan mampu memproduksi dalam jumlah yang besar,” katanya.

Prof Handoko berharap pemodelan simulasi pertanian (smart farming) ini semakin banyak digunakan dan dapat memberikan manfaat bagi petani Indonesia serta meningkatkan taraf hidup petani Indonesia. Model simulasi pertanian merupakan pengembangan dari bidang agrometeorologi. Yakni ilmu yang melakukan pengaturan dan rekayasa terhadap berbagai sumber daya yang ada seperti air, tanah, dan udara dalam rangka mendukung kegiatan pertanian.  

Semoga kedepannya, model pertanian (Smart Farming) ini dapat dipadukan dengan teknologi yang sudah ada sekarang, misalnya dengan dibuatkan aplikasi androidnya yang akan memungkinkan model ini bisa lebih mendidik masyarakat awam sekalipun.

Paket Umroh Murah