Pernah Bermimpi Bertemu dengan Para Nabi, Profesor ini Sebarkan Dakwah Lewat Sains

Pernah Bermimpi Bertemu dengan Para Nabi, Profesor ini Sebarkan Dakwah Lewat Sains

1301
0
SHARE

BataraNews.com – Melihat sosoknya yang begitu bersahaja dengan janggut yang memanjang serta sering berpakaian islami, Sekilas orang-orang yang berjumpa denganya akan menilai beliau sosok seorang ustadz atau kyai jebolan salah salah satu pesantren.

Namun, Jika kita telisik lebih dalam, ternyata beliau merupakan sosok yang dekat dengan dunia sains dan pendidikan.

Beliau bernama  Prof.Dr.Ir. Nur Tjahyadi, M.Sc yang sudah terkenal dikalangan akademisi nasional maupun internasional.

Prof.Nur, begitu banyak orang menyebutnya, memulai karir akademisi sebagai asisten berbagai mata kuliah di IPB. Lulus dari IPB, beliau melanjutkan kuliah S2 di Universitas Bristol hanya dalam waktu sebelas bulan dan  menyelesaikan S3 di Universitas Wales, Inggris pada tahun 1996. “Dalam masa sebelas hari penelitian S3, saya sudah dinyatakan layak untuk doktor. Atas prestasi itulah, penelitian saya kemudian diliput BBC London dalam acara Young Ecologist.

Suatu hari, profesor di bidang aplikasi biologi (pertanian, lingkungan, bioteknologi dan perlindungan tanaman) ini bermimpi bertemu Nabi Ibrahim, Nabi Daud dan Nabi Ayub. Sementara  istrinya dua kali bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW.  “Semua itu mengisyaratkan saya untuk berdakwah ke seluruh dunia,” ujar pria yang  sudah   pernah mengunjungi Inggris, Mesir, Arab Saudi, Malaysia, India dan  Bahrain ini.

Melanglang menjadi peneliti di berbagai negara pernah ia cicipi. Namun kecintaannya pada negeri sendiri membuat dia akhirnya pulang kampung.

Prof_NurIa kemudian mendirikan Pondok Pemberdayaan Kewirausahaan Amanah Sejahtera (PKAS) An Nur. Untuk ini, ia membeli tanah 3.500 meter persegi di Ciampea, Kabupaten Bogor seharga Rp 400 juta dan membuat pondok pesantren dengan konsep dakwah. “Di area pondok pesantren, kami bertani beragam tanaman, ternak dan perikanan.

Selanjutnya, ia membuka bermacam-macam usaha, diantaranya developer rumah, beternak burung, itik, ikan dan sebagainya. “Konsumen membayar langsung ke saya tanpa bunga. Banyak juga yang belum lunas sampai sekarang. Obsesi saya cuma membantu orang, walaupun kemampuan saya sangat terbatas. Saya tidak mikir untung atau yang muluk-muluk. Saya bisa makan, sehat dan ibadah dengan lancar itu sudah syukur Alhamdulillah,” kata pria yang sejak kecil sudah terbiasa berwirausaha ini.

“Banyak mahasiswa IPB yang magang di sana,” lanjut penulis berbagai buku pertanian ini. Ditanya alasan memilih usaha di bidang pertanian, ia mengatakan bahwa dengan usaha yang ditekuninya saat ini, ia tidak perlu bergantung mendapatkan penghasilan dari orang yang didakwahi.

“Pekerjaan yang paling bebas untuk juru dakwah adalah petani. Kita tidak boleh terima uang dari orang yang kita dakwahi. Walaupun hanya kenal di dunia maya, teman-teman alumni IPB juga ikut membantu modal pengembangan PKAS,” tandasnya.