Dosen IPB ini Temukan Formula Baru Untuk Mengukur Tingkat Kesejahteraan Seseorang

Dosen IPB ini Temukan Formula Baru Untuk Mengukur Tingkat Kesejahteraan Seseorang

1607
0
SHARE

BataraNews.com - Dalam ekonomi, suatu model diperlukan untuk menunjukkan perilaku yang harus dilakukan dan melihat keadaan perekonomian suatu wilyah. Salah satu model ekonomi yang ada saat ini adalah model Cibest. Model ini dikembangkan Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Irfan Syauqi Beik.

Model Cibest merupakan model yang mengukur tingkat kemiskinan dan kesejahteraan dari sisi syariah. Model Cibest merupakan hasil penelitian unggulan Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Syariah (CIBEST) IPB sejak tahun 2013.

“Kelebihan model ini kita bisa mengukur aspek material dan spiritual, sementara model yang ada selama ini hanya mengukur aspek material saja. Ketika stakeholder menggunakan model Cibest ini maka aspek spiritual juga akan diperhatikan, sehingga meminimalisir dampak negatifnya pada manusia dan menjadikan mereka lebih baik secara moral,” terang Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB ini.

Dalam model Cibest terdapat dua komponen utama yaitu tipologi kemiskinan dan indeks. Tipologi kemiskinan pada model Cibest berdasarkan pada kemampuan memenuhi kebutuhan material dan spiritual (ruhiyah) yang bersumber dari Al Quran. Terdapat empat kuadran tipologi model Cibest. Kuadran sejahtera yaitu ketika seseorang dapat memenuhi kebutuhan materi dan spiritualnya.

Dr Irfan Syauqi Beik
Dr Irfan Syauqi Beik

Kuadran kemiskinan material yaitu ketika seseorang miskin secara materi namun kaya dari segi spiritualnya. Kuadran kemiskinan spiritual yaitu ketika seseorang miskin secara spiritual namun kaya dari segi materinya. Sedangkan kuadran kemiskinan absolut yaitu ketika seseorang miskin materi dan spiritualnya.

Komponen kedua dalam model Cibest yaitu indeks masing-masing kuadran. Dalam menentukan seseorang kaya atau miskin diperlukan ukuran kesejahteraan yang jelas. “Seseorang dikatakan kaya secara material ketika income melebihi garis kemiskinan material, demikian pula dengan spiritual dikatakan kaya ketika melebihi garis batas kemiskinan spiritual. Yang jadi permasalahan sekarang adalah bagaimana menentukan garis kemiskinan ini agar dapat difahami oleh semuanya,” lanjutnya.

Dr. Irfan menjelaskan bahwa garis kemiskinan materi ditentukan dengan menghitung kebutuhan minimal satu unit keluarga dalam satu bulan. Sedangkan garis kemiskinan spiritual ditentukan oleh tiga variabel yaitu : ibadah wajib, lingkungan keluarga dan kebijakan pemerintah. “Tapi perlu ditekankan ya kita tidak mengukur tingkat takwa, karena hanya Allah yang tahu tapi kita hanya mengukur seseorang apakah miskin spiritual atau tidak,” ujar mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB ini. Saat ini lembaga zakat di Indonesia mulai memakai model Cibest ini.(ipbmag.ipb.ac.id)

loading...