Menguak Penyaliban Yesus dan Konspirasi Elit Yahudi

Menguak Penyaliban Yesus dan Konspirasi Elit Yahudi

SHARE
Ilustrasi Gambar

BataraNews.com – Benarkah Yesus disalib? Benarkah Yesus datang untuk menebus dosa manusia? Pertanyaan tersebut selalu mentok pada beberapa ayat bible yang diyakini oleh sebagian besar Kristiani. Namun beberapa kajian sejarah memberikan gambaran yang lebih mudah dipahami. Kaum Elitis Yahudi yang merasa terusik dengan makin bertambahnya pengikut Yesus, berhasil mendapatkan momentum untuk menghentikan ‘gerakan’ Yesus dengan memanfaatkan kekuasaan Romawi atas Palestina saat itu.

Opini dibangun untuk meyakinkan publik dan penguasa Romawi bahwa Yesus harus dibunuh. Penelitian sejarah seperti ini juga menemukan benang merah bahwa teori penebusan dosa ‘dicantumkan’ dalam bible untuk melemahkan bahkan meruntuhkan penentangan para pengikut Yesus. Jadi yang terjadi sebenarnya adalah pertarungan ideologis antara Yesus versus Konspirasi Elit Yahudi. Bagaimana penjelasannya?

Pengepungan Taman Getsemani

Kisah pengepungan di taman Getsemani terjadi pada tahun ketiga sejak Yesus mengajarkan Injil. Pada tahun itulah musuh Yesus yang di’dalangi’ elitis Yahudi berhasil menghentikan ‘gerakan’ Yesus dan pengikutnya, dengan meminjam ‘tangan’ Pontius Pilatus (Gubernur Yudea) untuk memberangus Yesus dan ajarannya.

Pengepungan yang dilakukan musuh Yesus terhadap Yesus dan 12 Muridnya menunjukkan adanya perlawanan dari kubu Yesus untuk tidak menyerah. Yudas yang ‘membantu’ musuh dalam menangkap Yesus pun disebut bible dengan kata penghianat, ini menunjukkan bahwa Yesus tidak ‘menghendaki’ penangkapan dan rencana pembunuhnan dirinya.

Dengan kata lain Yesus dan muridnya berusaha lolos dari penangkapan, sementara musuh berusaha menangkap dan membunuh Yesus. Jadi tidak benar jika dikatakan bahwa Yesus menyerahkan dirinya kepada musuh yang mengepungnya di taman Getsemani.

Kita bisa garis bawahi bahwa sejak awal yang menginginkan kematian Yesus adalah the man behind the scene, orang dibalik layar yang memerintahkan penangkapan Yesus, (bukan Yesus dan muridnya). Thus paradigma “Yesus datang untuk menebus dosa dengan cara dibunuh di kayu salib” bukan merupakan keyakinan Yesus dan para muridnya, melainkan opini yang berkembang sesudahnya, yang dibangun oleh musuh Yesus.

Membunuh Musuh Politik dengan Dua Mata Pedang

Cara konvensional para konspirator untuk menghabisi musuh politik adalah “menikamnya” dengan dua mata pedang. Pedang pertama adalah “tangan orang lain” yang kedua adalah “opini publik”. Inilah yang dilakukan Konspirasi Elit Yahudi. Yang pertama kali mereka lakukan adalah memakai kekuatan penguasa Romawi untuk “menghukum” Yesus. Yang kedua adalah menyisipkan opini dalam “kitabnya Yesus” sendiri bahwa pembunuhan Yesus adalah “legal”, bahwa Yesus dikirim Tuhan memang untuk dibunuh “bersama sama”.

Cara pertama sudah mereka lakukan dengan melakukan usaha penangkapan dibantu tentara romawi. Cara kedua mereka lakukan beberapa buluh tahun sesudahnya dengan me ‘revisi’ “kitabnya Yesus” dengan menambahkan sisipan “teori penebusan dosa”, yang mengelaborasi bahwa Yesus sungguh sungguh dikirim Tuhan untuk “dibunuh” bersama sama di tiang salib.

Tekanan penindasan luar biasa yang dialami pengikut Yesus setelah peristiwa Getsemani, di tambah hegemoni romawi saat itu, membuat opini yang mereka bangun itu berkembang cepat, tanpa ada opini tandingan yang berarti. Bahkan penetapan bible (kitabnya yesus versi mereka) pun berhasil mereka lakukan tanpa halangan yang berarti. Teori penebusan dosa (yang membenarkan pembunuhan Yesuspun) berhasil disematkan dengan “rapih” ke dalam bible.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak satupun penulis bible (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dan Paulus), tak seorangpun dari mereka yang merupakan murid Yesus, apalagi bertemu langsung dengan Yesus.

Begitu hebatnya fitnah politis yang terjadi saat itu sehingga kegembiraan atas “dibunuhnya Yesus” justru di’teriak’kan oleh orang orang yang mengaku pengikut Yesus. Bahkan sebagian besar Kristiani saat ini ‘mengancam’ siapa saja yang tidak percaya bahwa Yesus memang harus dibunuh dikayu salib, maka tidak termasuk yang diselamatkan. Acap kali kita dengar bahwa harusnya manusia bergembira atas berhasilnya “pembunuhan Yesus”, padahal sebenarnya yang paling bersukaria atas ‘terbunuhnya Yesus’ adalah orang orang dalam lingkaran Konspirasi Yahudi saat itu.

Bible, Sejarah Yesus versi Konspirator

Sudah cukup banyak yang membuktikan bahwa bible yang dijadikan dasar ajaran Kristiani saat ini bukanlah injil yang diajarkan Yesus kepada pengikutnya saat itu. Satu pernyataan yang cukup tegas pernah terlontar bahwa bible merupakan sejarah Yesus versi Konspirator Elit Yahudi. Sebagaimana lazimnya, sejarah yang diabadikan adalah sejarah yang ditulis “oleh” penguasa politik saat itu.

Sejarah Yesus ditulis oleh Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dan Paulus dibawah kekuasaan Romawi, yang notabene bertanggungjawab atas kekerasan terhadap Yesus dan pengikutnya. Jadi sejarah Yesus, atau bibel sekarang ini ditulis oleh pihak yang “membunuh” Yesus. Dan semua orang dengan mudah mengatakan bahwa pihak yang “membunuh” Yesus pasti setuju dan bergembira atas terbunuhnya Yesus, dan itu semua benar-benar tertuang dalam teks bible yang mereka tulis.

Konspirasi ‘sempurna’ selalu bisa terbaca dengan mudah ketika kita menganalisa motif dan kepentingan yang muncul dalam sebuah peristiwa. Tak berlebihan jika penyataan itu dianggap benar, Bible=Sejarah Yesus versi Konspirator. Tentu saja jika ada dihadapan kita injil asli ajaran Yesus, tak bisa dikatakan demikian karena ajaran Yesus pasti menentang rencana pembunuhan itu.

Penulis: Adil Muhammad Isa

Paket Umroh Murah