Pertama Dalam Sejarah Indonesia Punya Presiden Hobi Ngutang

Pertama Dalam Sejarah Indonesia Punya Presiden Hobi Ngutang

SHARE
Foto: Ilustrasi (detik forum)

BataraNews.com – Sudah Setahun lebih Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkuasa. Di akhir tahun 2015, posisi utang pemerintah RI makin membengkak. Bank Dunia melaporkan per-tanggal 2 Desember 2015, rezim Jokowi telah menerima Rp510,4 triliun dari penerbitan sekuritas dan 3,89 miliar dolar AS (sekitar Rp 53 triliun) dari pinjaman resmi luar negeri. Dengan demikian utang pemerintah bertambah Rp563 triliun. Besaran utang ini merupakan rekor terbanyak sepanjang sejarah pemerintahan Indonesia. Ini pertama kalinya Indonesia memiliki Presiden yang berani, berani ngutang.

Janji Jokowi dalam kampanye politiknya saat mencalonkan diri jadi Capres agar Indonesia menjadi bangsa yang berjaya sepertinya jauh api dari panggang, karena besarnya utang membuat pemerintah Jokowi-JK bisa menjadikan bangsa Indonesia bangkrut terlilit hutang. Sudah tentu Indonesia semakin tidak berdaulat karena setiap arah kebijakan sangat rawan dari intervensi asing terutama China yang banyak memberikan pinjaman kepada Indonesia. Dengan memberikan pinjaman yang besar itu tak mungkin China tak memiliki kepentingan yang bisa merugikan bangsa Indonesia kedepannya.

Melihat angka Debt Service Ratio (DSR) makin mencemaskan, besarannya di atas 50 persen. Ini Artinya, lebih dari setengah penerimaan negara (dari hasil ekspor) hanya habis untuk bayar utang. Negara bisa kolap. Utang yang bertumpuk akan makin menyulitkan Kita keluar dari defisit neraca dan transaksi berjalan yang hampir menyentuh angka tiga persen. Utang yang membesar akan terus menjadi beban yang berlipat-lipat di tahun-tahun mendatang. Ketahanan ekonomi nasional rentan dan mudah runtuh. Apalagi, diprediksi nilai tukar rupiah akan menjadi yang terendah se-Asia. Apalagi MEA sudah mulai diberlakukan ditahun 2016 ini, daya saing bangsa yang tak disiapkan dengan benar, ekspor menggila, sebuah ancaman yang sangat nyata akan kelangsungan negara ini.

Dapat dipastikan utang yang menumpuk akan menyulitkan pemerintah menyusun APBN yang produktif dan pro rakyat. Karena sebagian besar hanya untuk bayar utang plus bunga. Dampak buruknya akan mempersempit ruang gerak fiskal untuk menggerakkan sektor-sektor riil dan produktif. Apalagi, kesenjangan kaya-miskin makin sangat lebar. Kaya semakin kaya dan miskin semakin miskin, monopoli pemilik modal akan semakin menjadi-jadi dan kesewengan-wenangan akan menjadi budaya para pemilik modal.

Penulis : ADI SUPRIADI / Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan

Twitter : @assyarkhan

Paket Umroh Murah
  • Pertama dalam sejarah ? Gak salah tuh ???