Catatan Hitam Ari Soemarno, Kongkalikong dengan Riza Chalid

Catatan Hitam Ari Soemarno, Kongkalikong dengan Riza Chalid

SHARE

BataraNews.com | Penulis: Anthon Setiawan – Pengamat Ekonomi

Ari Hernanto Soemarno bukanlah orang baru di tubuh PT Pertamina. Ia adalah kader murni yang memuncaki karier sebagai orang nomor satu di Pertamina pada 2006-2009.
Pria kelahiran Yogyakarta 14 Desember 1948 itu meniti kariernya sebagai teknisi pengolahan di kilang LNG Badak, Bontang, Kalimantan Utara pada 1978 silam. Ia menghabiskan 16 tahun karier megasnya di LNG Badak sebelum akhirnya dipromosikan ke jenjang lebih tinggi.

Berikut adalah noda hitam yang sempat ditorehkan kakak kandung Rini Soemarno, Menteri BUMN Kabinet Kerja, selama berdinas di Pertamina dari beberapa sumber.

Pelanggaran Tender Pekerjaan Infrastruktur Lng Badak, Bontang (1996)

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Tim Tender PGP Bontang pada 1996, Ari Soemarno dinyatakan bersalah karena melanggar ketentuan tender dan berdasarkan laporan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan, Pertamina dirugikan hingga Rp1,2 miliar. Ari pun dihukum berat oleh Direktur Penolahan Pertamina, GJ Atihuta. Sanksi bagi Ari tidak main-main, karena golongan kepegawaian dan gajinya saat itu langsung diturunkan selam setahun. Ia juga dikeluarkan dari daftar peserta Kursus kepemimpinan di Pertamina bekerja sama dengan Lemhannas (SUSPI). Ari juga mendapat surat peringatan dari Kepala Divisi Gas dan Petrokimia, Direktorat Pengolahan Pertamina, Hadiono Sutirto. Ari memilih tidak meneken surat peringatan tadi dengan alasan itu bukan ia semata.

Ikut Menggawangi Lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001

Tentang Minyak Dan Gas Bumi. Ari Soemarno digandeng Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro pada tahun 2000 untuk ikut merumuskan kebijakan minyak dan gas bumi yang kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 22 tentang Minyak dan Gas Bumi. Regulasi ini merupakan karpet merah bai lahirnya BP Migas dan BPH Migas yang kemudian berganti baju menjadi SKK Migas.

Kongkalikong Penjualan Green Coke Bekas Kilang Dumai (2004-2005)

Ketika menjadi direktur utama Petral pada 2003-2004, Ari Soemarno pernah tidak melakkukan tender untuk mendapatkan harga jual terbaik bagi penjualan Green Coke eks Kilang Dumai. Ia justru mengalokasikannya kepada dua perusahaan fiktif (post box company), Paramount Oil dan Orion Oil yang di kemudian hari berupaya menaikkan harga jual minyak hingga US$8 per barel dari harga pasaran saat itu. Penggelembungan harga untuk membayar minyak sebesar 300 ribu ton itu membuat Petral rugi US$2,4 juta. Ketika menjadi direktur pemasaran di Pertamina, Ari kembali mengulangi kasusnya di Petral. Kali ini korbannya adalah Hanung Budya yang menjabat sebagai dirut Petral saat itu. Ari meminta Hanung memenangkan Mitsubishi dan Mitsui bagi minyak Green Coke Dumai untuk pengapalan sepanjang 2005. Hanung melalui tender yang sudah diatur, memenangkan Mitsubishi untuk pasokan minyak Maret dengan harga tawaran US$36 per barel. Sedangkan Mitsui diatur “menang” di tender terbatas dengan harga US$36,25 per barel untuk pengapalan April-Desember 2005. Lucunya, Mitsui belum pernah membeli minyak Green Coke sebelumnya, baik melalui Pertamina atau Petral. Selain itu, harga Mitsui lebih tinggi dari harga Mitsubishi yang memasok kargo Maret.

Kongkalikong Dengan Muhammad Riza Chalid

Ketika menjabat sebagai dirut Petral dan juga Pertamina, Ari Soemarno mempercayakan urusan minyak impor kepada Global Energy Resources Pte Ltd, perusahaan milik Muhammad Riza Chalid, mafia minyak kakap yang oleh trader di Singapura dijuluki “Godfather Gasoline”. GER dibentuk pada 2004 sebagai hasil peleburan Novalco, perusahaan minyak Singapura, Hin Leong Trading Pte Ltd untuk memasok solar ke Indonesia. Bahkan, solar yang dipasok Hin Leong kepada GER dan Petral ditengarai hasil selundupan dari Indonesia. Petral membeli solar dari GER antara 2-3 kargo (1,2 juta-1,6 juta barel per bulan). Muncul penggelembungan harga pembelian yang mencapai US$0,3 per barel atau mencapai US$540 ribu per bulan atau US$6,480 juta per tahun.

Paket Umroh Murah