Menggali Jejak Islam di Bumi Cendrawasih, Papua (Bagian IV)

Menggali Jejak Islam di Bumi Cendrawasih, Papua (Bagian IV)

SHARE

BataraNews.com – Berbagai versi dan sumber-sumber sejarah makin menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Papua sudah berlangsung sejak lama. Bahkan, berdasarkan bukti sejarah terdapat sejumlah kerajaan-kerajaan Islam di Papua, yakni: (1) Kerajaan Waigeo (2) Kerajaan Misool (3) Kerajaan Salawati (4) Kerajaan Sailolof (5) Kerajaan Fatagar (6) Kerajaan Rumbati (terdiri dari Kerajaan Atiati, Sekar, Patipi, Arguni, dan Wertuar) (7) Kerajaan Kowiai (Namatota) (8). Kerajaan Aiduma (9) Kerajaan Kaimana.

Di jayapura terdapat 5 makam wali yang pernah menyebarkan islam. Dari kelima ulama tersebut hanya 2 ulama yang baru diketahui. Mereka adalah :

Habib Muhammad Kecil (Asghar)

Syeh Ahmadi beliau berasal dari yaman yang di minta untuk membantu syiar dakwah Habib Muhammad kecil di jayapura.
Dari kedua Ulama tersebut hanya Habib Muhammad Kecil yang masih terdapat kisah dakwahnya namun itupun sangat sedikit. Tapi hal ini tak mengurangi jejak Islam disana, banyak sejarah yang sulit disangkal, apalagi jika menarik catatan sejarah yang “netral” kala kedatangan pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Muslim Cheng Ho ditugaskan oleh Kaisar Yung Lo (Dinasti Ming 1363-1644) memimpin misi muhibah ke-36 negara. Antara lain ke Timur Tengah dan Nuswantara (1405-1430). Membawa pasukan muslim 27.000 dengan 62 kapal.

Dalam Armada Angkatan Lautnya itu, rupanya juga diikutsertakan seorang ulama Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali Ra.dan Siti Fatimah putri Rosulullah SAW.

Syeh Hasanuddin, seorang ulama yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka, yang berperan penting atas keislaman Prabu Siliwangi, dari catatan sejarah Syekh Hasanuddin setelah menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau pulang ke Campa dengan menempuh perjalanan melewati ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan ‪Jayapura‬ hingga melalui pelabuhan Muara Jati yang dulu pernah dikunjunginya bersama Laksamana Cheng Ho.

Begitu banyak bukti Islam telah lama masuk ke bumi Papua sejak ratusan tahun yang lalu. Peninggalan-peninggalan ajaran Islam yang dipegang erat-erat oleh suku-suku di Papua sebagai sebuah hukum adat adalah saksi bisu abadi. Ketika kepala suku itu kembali memeluk Islam. Tak lama kabar sampai kepada pejabat dan aparat pemerintahan setempat yang non muslim.

Mereka memanggil kepala suku itu dan mendampratnya habis-habisan karena telah memberi sebidang tanah untuk Muslimin membangun Musholla. Kepala suku dipaksa untuk mengusir mereka dan kepala suku tetap pada pendiriannya, maka kepala suku itu ditelanjangi hingga hanya celana dalamnya yang disisakan. Lalu ia disiksa dan dicambuki dengan kulit ikan pari, yang terkenal dengan kulitnya yang penuh duri tajam nan beracun. Qodarullah, Kepala suku tetap tidak mau mengubah keputusannya, ia tetap ingin mempertahankan pusaka Al-Qur’an dan tak mau mencabut izin untuk pembangunan Mushalla itu.

Dari banyaknya fakta dan bukti-bukti akan peradaban Islam Papua, Kerajaan-kerajaan Islam Papua, kemanakah menghilangnya umat Islam di Papua yang sangat janggal jika sekarang ini justru Islam di Papua adalah agama minoritas yang dipeluk oleh dari sekitar 16% menjadi 22% hasil sensus 2010 penduduk provinsi ini, dari keseluruhan 2.833.381 jiwa penduduk berdasarkan sensus tahun 2010. Mayoritas umat Islam tersebut adalah dari non suku asli Papua (439.337 jiwa, atau 15.51%), sedangkan sisanya adalah dari suku asli Papua (10.759 jiwa, atau 0.38%).

Apa mungkin hanya gerakan dakwah agama lain saja yang membuat Islam menjadi minoritas dengan sejarah peradabannya menghilang terbukti dengan klaim ajaran yang di bawa kolonial atas bumi papua yang mereka jadikan dasar untuk menekan perkembangan Islam disana, sedangkan seiring kemajuan zaman di eropa dan negara-negara non muslim lainnya saja islam bisa tumbuh pesat?

Dalih lain menjelaskan jika pernah diterjang tsunami yang menenggelamkan Kerajaan besar Islam. Tapi dalih ini pun menjadi janggal jika dijadikan dasar sebagai bukti untuk menjawab mengapa peradaban Islam menghilang dan menjadi minioritas, apa mungkin tsunami hanya melenyapkan umat Islam dan tak ada yang sempat memanfaatkan pegunungan untuk menyelamatkan diri sedangkan umat non muslim selamat dari tsunami tersebut, waras?

Jawaban yang hanya memaksa kita untuk melupakan penjajahan Protugis, Belanda, Inggris yang mewakili peran negara-negara kolonial penjajah dalam penghancuran wilayah-wilayah islam sesuai penyebaran misi yang dibawa pasukan missiocinta-missiokasihsasinya yang sebenarnya masih bisa kita lihat pengaruhnya sekarang dari berbagai kejadian di Papua yang mengindikasikan apapun tega mereka lalukan kepada umat Islam disana, maupun Nuswantara seiring pesatnya pertumbuhan “anti” islam yang selalu sentimen saat ini?

Ada ulasan menarik oleh Bhayu Parhendrijati yang menurut ane masih melupakan peran-peran kolonial Belanda, Inggris, France sekutu dan agent-agent lokalnya diseperti atas, saat beliau mengajak bangun konstruksi jika tragedi kemanusiaan di Papua jika sebenarnya ini adalah ‘ulah’ dari pihak ‘asing’ (lupa: ulah pihak lokal juga) saat menanggapi tragedi “terkini”.

Menurutnya, hal ini ada dua alasan, pertama adalah adanya ‘isu’ sentimen Islamphobia secara mendunia dan atau di negeri yang mayoritas adalah pemeluk agama Islam.
Kabar Islamofobia di Indonesia bahkan ternyata dicermati Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang saat ini lagi dimusuhi Dunia (khususnya jemaah missiotaqiyahsasi). Reaksi pembelaan Erdogan terhadap Muslimin Indonesia itu “terpotret” oleh Ustadz Azzam Mujahid Izzulhaq. (Bersambung)

Paket Umroh Murah